8 Alasan Konyol Pria Untuk Putus

DIPUTUSKAN secara sepihak memang menyakitkan—apalagi dengan kata-kata yang tidak pantas atau alasan yang sangat konyol. Bersyukur saja, pada akhirnya kita tidak perlu menghabiskan hidup dan waktu kita dengan orang yang tidak sungguh-sungguh menghargai kita. Coba ingat-ingat, apa dia mengucapkan salah satu dari kalimat ini?

1. “Kamu pantas dengan orang yang lebih baik.”
Ini kalimat klasik yang sering digunakan oleh kaum pria. Mereka ingin putus, namun juga ingin terlihat “rendah hati”. Tentu saja, selalu ada orang yang lebih baik di luar sana—tapi menjadi “baik” juga sesuatu yang bisa diusahakan bersama bukan? Lupakan pria ini, dia benar; kita memang selayaknya mendapat pria yang lebih baik.

2. “Sebaiknya kita berteman saja.”
kalimat ini jelas-jelas diucapkan oleh pria yang menginginkan keuntungan dari kita (perhatian, materi, seks)—akan tetapi tidak ingin terikat dengan komitmen apapun dengan kita. Pfft!

3. “Saya belum siap berkomitmen.”
Lucunya, kalimat ini diucapkan setelah dia menjalin hubungan beberapa saat dengan kita. Tentu saja ini konyol, karena hubungan bukan seperti membeli barang bergaransi dengan kartu kredit yang bisa kita kembalikan ketika kita menyesal untuk memilikinya.

4. “Ini bukan salah kamu, tapi aku…”
Ya, anggap saja memang salahnya. Kalimat ini adalah “jalan pintas” yang sering ditempuh pria untuk putus namun ingin menghindar dari “tanggungjawab” untuk menjelaskan mengapa kepada kita. Pria seperti ini biasanya masih memiliki pola pikir yang tidak dewasa

5. “Kalau saja kita bertemu lebih awal.”
Pria seperti ini sepertinya memiliki isu di masalah lalu yang belum selesai. Unfinished business. Apaah dia tidak bisa move on dari mantan yang terdahulu? Apakah dia sedang mengejar seseorang yang tidak kunjung didapatnya—sesaat sebelum kita masuk dalam hidupnya?

6. “Kamu tuh orangnya baik banget.”
So what? Heran kenapa pria menggunakan kalimat ini? Karena mereka ingin memsukkan kita ke dalam “friend-zone” atau mereka berpikir putus akan lebih mudah dilakukan dengan mengucapkan pujian setinggi langit seperti ini.

7. “Aku butuh waktu untuk berpikir.”
Kalimat ini merupakan kombinasi dari, “aku belum siap berkomitmen” dan “aku pikir sebaiknya kita berteman saja.” Percayalah, pria ini sebenarnya tidak butuh waktu untuk berpikir—dia sudah menetapkan keputusannya.

8. “Aku nggak tahan terus-terusan merasa bersalah.”
Setelah episode pembatalan kencan berkali-kali, sejuta alasan bahwa dia terlalu capek untuk menemani kita pergi ke sana-sini atau melupakan hari-hari penting dalam hubungan, dia mengucapkan kalimat ini yang setara dengan intro menjelang putus. Tidak tahan merasa bersalah? Mengapa tidak berusaha memperbaiki diri, menepati janji, tidak mengulang kesalahan dan lain sebagainya? Kita tidak membutuhkan permintaan maaf berulangkali—yang kita butuhkan sikap nyata, bukan?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *